Budidaya Tanaman

The Learning Farm
Oleh The Learning Farm Kategori: Budidaya Pertanian

Deskripsi Materi Belajar

Pengantar Budidaya Tanaman
Budidaya tanaman adalah seni dan ilmu mengelola sumber daya alam untuk memproduksi tanaman yang bernilai ekonomi, pangan, atau estetika. Proses ini mencakup seluruh siklus hidup tanaman—mulai dari persiapan benih, pengolahan tanah, pemeliharaan, hingga panen dan pascapanen—guna memastikan hasil yang optimal dan berkelanjutan.
Berikut adalah pilar utama dalam budidaya tanaman yang akan dipelajari:
  • Pembenihan & Seleksi: Menentukan varietas unggul yang tahan hama dan sesuai dengan kondisi iklim setempat.
  • Pengolahan Tanah: Mempersiapkan media tanam yang gembur, memiliki drainase baik, serta kaya akan unsur hara.
  • Pemeliharaan: Meliputi penyiraman teratur, pemupukan berimbang, serta pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).
  • Panen & Pascapanen: Memanen pada waktu yang tepat dan menangani hasil panen untuk menjaga kualitas serta nilai jual.
Dengan menguasai prinsip budidaya yang baik dan benar (seperti Good Agricultural Practices), peserta tidak hanya dapat meningkatkan produktivitas hasil panen, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan untuk jangka panjang.
Baca Lebih Banyak

Kurikulum/ Konten Kursus

Budidaya Tanaman Poaceae (Padi-Padian)
Budidaya tanaman suku Poaceae (rumput-rumputan) merupakan pilar utama ketahanan pangan dunia karena mencakup komoditas strategis seperti padi, jagung, gandum, tebu, dan sorgum. Kelompok tanaman ini dicirikan oleh batangnya yang beruas, daun berbentuk pita, dan sistem perakaran serabut yang kuat. Melalui pembelajaran ini pembelajar diharapkan mampu untuk membangun pemahaman tentang sejarah tanaman keluarga Poaceae, syarat tumbuh dan lingkungan hidup tanaman, pembibitan dan persemaian, siklus hidup dan pemeliharaan, organisme pengganggu, penyakit dan pengendaliannya serta nilai ekonomis dan manfaat tanaman keluarga Poaceae (Jagung Manis dan Padi) bagi kesehatan.

  • Budidaya Tanaman Poaceae (Padi-Padian)
  • Video Pembelajaran: Budidaya Tanaman Padi Perawatan Tanaman usia 2 bulan
    02:35
  • Quiz: Budidaya Tanaman Poaceae

Budidaya Tanaman Fabaceae (Kacang-Kacangan)
Materi ini membahas teknik budidaya dan manajemen tanaman dari famili Fabaceae (Leguminosae), yang dikenal sebagai keluarga kacang-kacangan dan polong-polongan. Pembelajar akan mempelajari karakteristik morfologi, peran pentingnya dalam fiksasi nitrogen, serta aplikasinya sebagai tanaman pangan, pakan ternak, dan pupuk hijau. Materi pembelajaran akan mencakup seluruh siklus budidaya yang meliputi: Persiapan lahan tanam dan pengolahan tanah, Seleksi benih dan perlakuan benih, Sistem tanam dan pemupukan, Pengendalian hama dan penyakit, Teknik pemanenan dan pascapanen yang tepat.

Budidaya Tanaman Brasicaceae (Kubis-kubisan)
Modul ini dirancang khusus untuk membangun pemahaman komprehensif dan keterampilan praktis Anda dalam membudidayakan berbagai jenis tanaman dari famili Brassicaceae (sawi-sawian) secara efektif, teratur, dan berwawasan lingkungan. Tujuan & Kompetensi PembelajaranTujuan Utama: Menguasai prinsip dan teknik budidaya tanaman kelompok Brassica meliputi Kubis, Brokoli, Sawi Putih, Caisim, Pakcoy, serta Kailan. Kompetensi yang Dikembangkan: Pemahaman teoritis dan aplikasi praktis secara menyeluruh, mulai dari persiapan lahan/pembenihan, teknik penanaman, pemeliharaan/perawatan, hingga manajemen hama & penyakit, pemanenan, dan pascapanen. Alokasi Waktu: Modul dirancang untuk 2 jam sesi teori/pemahaman konsep dan 4 jam sesi praktik lapangan untuk setiap jenis tanaman. Ringkasan Komoditas Tanaman 1. Budidaya Kubis (Brassica oleracea var. capitata L.) Karakteristik: Sayuran semusim/dua musim berakar dangkal dengan krop daun padat. Mengandung vitamin A, C, B1, B2, serta senyawa antikanker. Kunci Budidaya: Membutuhkan pengairan konsisten (terutama hingga krop terbentuk di usia ~60 hari) dan pengolahan tanah metode double digging. Tumpang sari dengan tanaman tomat sangat dianjurkan untuk menekan serangan hama Plutella. Hama/Penyakit Utama: Ulat krop (Spodoptera litura, Crocidolomia binotalis), ulat kubis (Plutella xylostella), penyakit Akar Gada (Plasmodiophora brassicae), dan bercak daun Alternaria. 2. Budidaya Brokoli (Brassica oleracea var. italica) Karakteristik: Dikenal sebagai kubis bunga hijau yang kaya sulfur, asam folat, vitamin C, serta serat. Tumbuh optimal di daerah sejuk/pegunungan (15–18°C) dengan tanah lempung berpasir. Kunci Budidaya: Memerlukan pemupukan susulan berjadwal (10, 20, dan 35 HST) serta perompesan tunas cabang sejak dini agar kualitas bunga maksimal. Hama/Penyakit Utama: Kutu daun (Aphis brassicae), Ulat tanah (Agrotis ipsilon), Busuk Hitam (Xanthomonas campestris), dan Busuk Lunak (Erwinia carotovora). 3. Budidaya Sawi Putih / Petsai (Brassica chinensis L.) Karakteristik: Tumbuhan roset yang membentuk silinder memanjang berwarna kuning pucat hingga putih. Dipanen pada fase vegetatif sebelum berbunga. Kunci Budidaya: Membutuhkan iklim sejuk (dataran tinggi). Pemberian pupuk organik padat dan cair secara berkala dihentikan begitu tanaman mulai membentuk krop. Hama/Penyakit Utama: Ulat tanah (Agrotis ipsilon), ulat perusak daun (Plutella xylostella), dan Akar Gada. 4. Budidaya Caisim (Brassica rapa var. parachinensis L.) Karakteristik: Berdaun panjang, halus, tanpa krop, serta kaya akan vitamin A, B, C, Fe, dan Ca. Beradaptasi luas dari dataran rendah hingga tinggi. Kunci Budidaya: Masa tanam relatif singkat (panen sekitar umur 40 hari). Memerlukan benih berkualitas tinggi dan drainase media yang terkontrol. Hama/Penyakit Utama: Ulat tritip (Plutella maculipennis), siput (Agriolimax sp.), penyakit Rebah Semai (damping off), dan Busuk Basah. 5. Budidaya Pakcoy (Brassica rapa L.) Karakteristik: Sayuran berumur pendek (± 45 hari) yang umum digunakan untuk sup dan garnis. Kunci Budidaya: Sangat responsif terhadap sinar matahari penuh dan aerasi tanah yang baik (pH 5,5–7). Penyiangan dilakukan 2–4 kali selama satu musim tanam. Hama/Penyakit Utama: Ulat, thrips, siput, cacing bulu, serta penyakit layu bakteri/jamur. 6. Budidaya Kailan (Brassica alboglabra) Karakteristik: Sayuran asal Asia/Cina yang menghendaki suhu sejuk (15–24°C) dengan kelembaban 80–90%. Kunci Budidaya: Memerlukan media semai kaya porositas (campuran tanah, kompos, pupuk kandang, dan arang sekam). Penyiraman harus sangat diperhatikan karena kekurangan air dapat menyebabkan rasa kailan menjadi pahit. Hama/Penyakit Utama: Hama ulat serupa kubis/brokoli dan penyakit Akar Gada. Prinsip Pengendalian Hama & Penyakit (PHT) Dalam modul ini, pendekatan utama yang ditekankan adalah Pengendalian Hama Terpadu (PHT): Sanitasi Lahan & Rotasi Tanaman: Menjaga kebersihan bedengan dan berganti tanaman yang tidak sefamili untuk memutus siklus hidup organisme pengganggu tanaman (OPT). Pengendalian Mekanis: Melakukan pemungutan langsung (hand picking) pada larva/hama yang ditemukan. Pestisida Nabati & Biologi: Menggunakan ekstrak bahan alami (seperti biji/daun nimba, biji sirsak, tembakau, lengkuas, bawang putih) serta agens hayati seperti Trichoderma. Perbaikan Lingkungan Tanam: Pengapuran lahan (kalsit/dolomit) untuk menaikkan pH dan menekan penyakit Akar Gada. Selamat belajar dan mengaplikasikan prinsip-prinsip budidaya tanaman Brassica secara tepat dan ramah lingkungan!

Budidaya Tanaman Cucurbitaceae (Labu-labuan)
Modul ini membahas karakteristik umum famili Cucurbitae (waluh-waluhan) serta panduan teknis budidaya untuk dua komoditas utamanya, yaitu Semangka dan Melon. Karakteristik Umum Cucurbitae Ciri Fisik: Tanaman bersifat menjalar/merambat. Batang panjang, lunak, mengandung air, serta dilapisi bulu-bulu tajam. Daun melebar dan bercangap menjari. Bunga: Berkelamin tunggal (unisexual), berumah satu (monoecious). Bunga betina ditandai dengan bakal buah membengkak di bawah mahkota. Contoh Genus & Spesies: Citrullus (Semangka), Cucumis (Mentimun, Blewah, Melon), Cucurbita (Labu besar), Luffa (Gambas/Oyong, Blustru), Momordica (Pare), Sechium (Labu siam), dll. BUDIDAYA SEMANGKA (Citrullus lanatus) 1. Profil & Syarat TumbuhAsal-usul: Berasal dari Gurun Kalahari (Afrika) dan pertama kali dipanen 5.000 tahun lalu di Mesir. Karakteristik: Mengandung 92% air, kaya vitamin A, B6, C, dan lycopene. (Note: Jangan dimakan bersamaan dengan gula aren karena dapat meracuni pencernaan). Syarat Tumbuh: Optimal di dataran rendah (0–600 m dpl), tanah lempung berpasir (pH 6–7), curah hujan 40–50 mm/bulan, butuh penyinaran matahari penuh. 2. Varietas Unggul Berbiji: Reddi 227, Metal 206, Red Top 2.12, New Dragon, China Dragon, Flower Dragon, Grand Baby, Yellow Baby, Mas Kuning (S112). Tanpa Biji (Non-Biji/Triploid): Good Quality, Quality, Fengshan No. 1, Pretty Orchid (S107), Jelita (S115). Mini/Spesial: Hitam Manis (S108 - semangka mini), Champion (S111). 3. Teknis Budidaya Pembibitan: Perendaman benih dalam air hangat (20–25°C) + abu kayu selama 8–12 jam, kemudian diperam dalam kertas koran hingga berkecambah lalu dipindah ke polybag (12–14 hari). Lahan & Mulsa: Pengolahan tanah >30 cm, bedengan lebar 6–8 m. Disarankan menggunakan Mulsa Plastik Hitam Perak (MPHP) atau jerami kering setebal 2–3 cm untuk media rambat dan tatakan buah. Penanaman & Pemupukan: Jarak tanam 50–60 cm. Aplikasi pupuk makro (N, P, K) bertahap hingga fase pembentukan buah pentil, dikombinasikan dengan Pupuk Organik Cair (POC). Perawatan Khas:Perompesan: Dipelihara 2–3 cabang utama; tunas air/ranting tak berguna dibuang. Pembalikan Buah: Calon buah berukuran ±2 kg harus rajin dibalik agar warna kulit merata (tidak putih akibat tertutup dari sinar matahari). Perkawinan Buah: Melakukan penyerbukan buatan antara bunga jantan dan betina. Seleksi dipatok 1–2 buah terbaik per tanaman. Hama & Penyakit: Thrips, Ulat Daun, Tungau, Ulat Tanah, Lalat Buah. Penyakit utama: Layu Fusarium, Antraknosa, Bercak Daun, Busuk Semai, Karat Daun. Panen: Dipanen pada umur 70–100 HST. Ciri: Perubahan warna kulit dan tangkai buah mulai mengecil. BUDIDAYA MELON (Cucumis melo) 1. Profil & Syarat Tumbuh Asal-usul: Berasal dari Lembah Persia / Mediterania. Masuk Indonesia sekitar tahun 1970-an. Morfologi & Kategori:Tipe Netted-Melon: Kulit kasar berurat/berjaring (net), aroma harum, tahan simpan (panen 75–90 hari). Tipe Winter-Melon: Kulit halus/licin, aroma tidak harum, masa simpan lebih pendek (panen 90–120 hari). Syarat Tumbuh: Dataran menengah/rendah (300–900 m dpl), tanah liat berpasir, kaya organik (pH 5,8–7,2), suhu 25–30°C. Sensitive terhadap hujan berlebih (jika ditanam musim hujan wajib menggunakan naungan/greenhouse). 2. Varietas Populer Sky Rocket / Select Rocket: Berjaring tebal, daging hijau kekuningan, sangat populer. Jade Dew, Honey Dew, Autumn Sweet, Golden Prize: Varietas berkulit halus/berjaring tipis dengan berbagai warna daging (jingga/putih/kuning). Ten Me: Kualitas premium, sangat manis (kadar gula 14–16%), harga mahal. Action 434, New Century, Red Queen, MAI 119, MAI 116, Ladika. 3. Teknis Budidaya Penyemaian: Perendaman benih air hangat 2–4 jam. Disemai tegak (ujung akar ke bawah) pada media tanah + pupuk kandang (2:1) dan diperam karung goni basah (suhu 28–30°C). Lahan & Penanaman: Bedengan lebar 100–110 cm, tinggi 30–50 cm. Jarak tanam 50 - 60 cm (pindah tanam saat berdaun 1,5–2 helai / 10–12 HST). Pemangkasan & Seleksi Buah:Pangkas tunas ketiak daun ke-1 hingga ke-9. Pelihara bakal buah dari ruas ke-10, 11, 12, atau 13. Pangkas tunas ruas ke-14 hingga ke-25, dan pangkas pucuk utama setelah 25 ruas. Seleksi 1: Sisakan 3–4 calon buah; Seleksi 2: Pilihlah 1–2 buah terbaik (sebesar telur ayam) agar ukuran buah maksimal. Pemasangan Ajir & Pengairan: Wajib menggunakan ajir bambu (hingga tinggi 5 m/sesuai kebutuhan) sebagai rambatan. Pengairan berbentuk spiral, hindari mengenai batang/daun (hentikan pengairan total 2 minggu sebelum panen). Perlindungan Buah: Pembungkusan buah menggunakan plastik transparan dan diikat tali rafia untuk mencegah serangan lalat buah. Panen: Dipanen pada usia ±3 bulan (tergantung varietas). Ciri: Retakan/cincin pada tangkai, aroma harum, bagian bawah agak lunak jika ditekan. Tangkai dipotong membentuk huruf "T" (minimal 2 cm) untuk memperpanjang masa simpan.

Budidaya Tanaman Umbi-umbian
Modul ini membahas teknik budidaya dan pemanfaatan tiga jenis tanaman umbi-umbian utama, yaitu Lobak, Wortel, dan Bit sebagai sumber karbohidrat alternatif non-beras dan nutrisi penting. 1. Budidaya Lobak (Brassicaceae/Cruciferae) Profil & Karakteristik: Berasal dari Cina dan tergolong famili kubis-kubisan (Cruciferae). Ditanam di dataran tinggi maupun rendah. Membutuhkan tanah gembur, bebas batu/kerikil (pH 5–6), serta cukup air (diutamakan musim hujan). Manfaat: Bahan soto, asinan/acar, obat gangguan ginjal, demam, dan obat batuk (menggunakan lendirnya). Teknis Budidaya: - Penanaman: Menggunakan biji langsung (tabela) tanpa disemai, ditugal dengan kebutuhan benih 5 kg/ha. Jarak alur 30 cm dan jarak lubang tanam 20–25 cm. - Pemupukan & Penyiangan: Penyiangan dan pembumbunan dilakukan pada usia 2–3 minggu. Pembumbunan penting agar umbi tidak terpapar sinar matahari langsung (yang memicu umbi berwarna hijau). Dosis pemupukan N:P:K (1:1:2) sebesar 5 ons per tanaman. - Panen: Dipanen pada usia 2 bulan. Panen yang terlambat membuat umbi berkayu dan rasanya tidak enak. Potensi hasil mencapai 15–20 ton/ha. 2: Budidaya Wortel (Daucus carota - Apiaceae) Profil & Karakteristik: Berasal dari kawasan subtropis Asia Tengah (~6.500 tahun lalu). Tergolong suku adas-adasan (Apiaceae) dan merupakan umbi terpopuler kedua di dunia setelah kentang. Varietas lokal: Kuroda, Pusaka, Ideal, Red Judy, dan Red Sky. Manfaat: Kaya beta-karoten (Prekursor Vitamin A), hidrat arang, fosfor, dan antioksidan. Baik untuk kesehatan mata (mencegah katarak), kesehatan kulit, memperlancar ASI, menurunkan kolesterol, serta menekan risiko stroke. Teknis Budidaya: - Pengolahan Lahan: Tanah dicangkul sedalam >40 cm, diberi pupuk kandang 2 kg/m2. Dibuat guritan dalam bedengan dengan kedalaman 2,5 cm dan jarak antar baris 20 cm. - Penanaman: Biji ditabur merata di alur guritan, ditutup tanah 1 cm, lalu dilapisi jerami/daun pisang hingga berkecambah. -Pemeliharaan: Penyiraman 2 kali sehari hingga berkecambah, lalu dilakukan penjarangan (jarak antar tanaman ±5 cm) dan pembumbunan. Semprotkan MOL setiap 2 minggu sekali (250 cc / 10 liter air). - Panen & Pascapanen: Dipanen pada usia 3–4 bulan. Jika jarak pasar dekat, diikat beserta daunnya (1,2{–1,3kg/ikat); jika jauh, daun dan ujung umbi dipotong untuk meringankan pengangkutan. 3: Budidaya Bit (Beta vulgaris L. - Chenopodiaceae) Profil & Karakteristik: Berasal dari Mediterania/Laut Tengah. Optimal ditanam di iklim dingin dengan tanah berpasir. Manfaat/Khasiat Nutrisi:Betasianin: Mencegah penyakit kanker. Caumarin: Mencegah tumor. Asam Folat: Menumbuhkan dan memperbaiki sel yang rusak. Mengandung Kalium, Serat, Vitamin C, Magnesium, Triptofan, Zat Besi, Tembaga, dan Fosfor. Teknis Budidaya: - Penanaman: Bisa secara langsung (tabela) atau disemai dulu selama 2–3 minggu. Diberi pupuk dasar 3–4 ton/ha. - Pemeliharaan & Hama: Membutuhkan pembumbunan dan penyiraman rutin. Penyakit utama adalah Downy Mildew / Embun Upas (Peronospora schachtii). Pengendaliannya dengan penyiraman air bersih atau aplikasi MOL/tetes tebu (250 cc / 5 liter air) jika sudah parah. - Panen: Dipanen pada usia 2,5–3 bulan. Semakin tua usia tanaman bit, rasanya akan semakin manis. Potensi hasil >20 ton/ha.

Budidaya Tanaman Solanaceae (Terung-terungan)
Modul ini berfokus pada teknik budidaya, pengelolaan nutrisi, serta penanganan Hama dan Penyakit Tanaman (HPT) pada tiga komoditas utama famili Solanaceae (terung-terungan): Cabai, Terung, dan Tomat. 1: BUDIDAYA CABAI (Capsicum) Syarat Tumbuh: Optimal pada tanah gembur/remah (pH 5,5–6,0) tanpa ternaungi. Membutuhkan curah hujan 1.500–2.500 mm/tahun, suhu 16–32∘C, dan penyinaran matahari 10–12 jam saat pembungaan/pembuahan. Nutrisi & Senyawa Utama: Mengandung vitamin A, C, dan Capsaicin (minyak atsiri penyebab rasa pedas). Teknis Budidaya: - Pengolahan Lahan: Pemberian pupuk kandang 1 kg/m2, kapur 1,5–4 kg/m2 (jika pH rendah), dan penutupan MPHP dengan jarak tanam 60×70 cm pola zig-zag. - Pembibitan: Perendaman benih dalam air hangat (2–4 jam) dan diperam semalam. Persemaian di polibag 4×6 cm dinaungi atap plastik/daun kelapa miring ke timur selama 21–30 hari (memiliki 5–6 helai daun). - Pemupukan Susulan: Aplikasi NPK cair tiap 2 minggu. Umur 2–4 MST: NPK (1:1:1) sebanyak 250 cc/lubang; Umur 5–12 MST: NPK (1:2:2) sebanyak 500 cc/lubang. - Panen: Pemanenan pertama umur 60–70 HST, diulang tiap 3 hari sekali pada pagi hari (tingkat kematangan 80–90%). - Hama & Penyakit Khas: Rebah semai (Pythium sp., Rhizoctonia sp.), Antraknosa (Colletotrichum), Kutu Daun Persik (Aphid sp.), Thrips, Tungau, Ulat Tanah (Agrotis ipsilon - dijebak dengan gedebog pisang), Ulat Grayak (Spodoptera), Lalat Buah (diatasi dengan Metil Eugenol). 2: BUDIDAYA TERUNG (Solanum melongena L.) - Syarat Tumbuh & Nutrisi: Tumbuh pada ketinggian 1–1.200 m dpl, suhu 22–30∘C, pH 6,8–7,3 pada tanah lempung berpasir. Kaya kalium (217 mg/100 g), serat, vitamin C, B6, anthocyanin, dan asam klorogenat. (Catatan: Biji terung mengandung nikotin rasa pahit). - Teknis Pemeliharaan Khusus: Jarak Tanam: Organik (40×80 cm); Konvensional (60×60 cm, 50×80 cm, atau 40×70 cm); Varietas bongsor (1×1 m). Perompesan (Pruning): Perompesan Daun: Membuang seluruh tunas muda di bawah cabang "V" pada masa vegetatif agar hara terfokus dan aerasi terjaga. Perompesan Bunga/Buah: Membuang bunga/buah pertama pada cabang "V" untuk memperkuat daya tahan tanaman dan memperpanjang masa produksi. - Pemasangan Ajir: Diberikan pada umur 1–2 MST setinggi maks 2 m, diikat membentuk angka 8 agar batang tidak terluka. - Pola Produksi: Produksi terung berpuncak di tengah siklus hidup (berbentuk kurva lonceng). Untuk menjaga kontinuitas pasokan harian/mingguan, dilakukan penyemaian bertahap saat tanaman generasi pertama mencapai anthesis (mekar bunga pertama). 3: BUDIDAYA TOMAT (Solanum lycopersicum L.) Syarat Tumbuh: Tumbuh optimal di dataran tinggi sejuk (23∘ C siang, 17∘C malam) dengan pH 6,0–7,0 pada tanah lempung berpasir kaya humus. Batang dan daunnya mengandung alkaloid sehingga tidak boleh dikonsumsi. Teknis Budidaya: - Pembibitan & Penanaman: Perendaman air hangat 3 jam, diperam tisu basah, lalu disemai di polibag (media tanah:pupuk:arang sekam 2:1:1). Pindah tanam dilakukan sore hari dengan jarak tanam 40×80 cm. - Pemupukan: Pupuk cair NPK dosis 250 cc/lubang (2–4 MST) dan 500 cc/lubang (5–12 MST). Peringatan: Kelebihan Nitrogen menyebabkan batang tomat mudah patah. - Perompesan: Dilakukan setiap minggu pada pagi hari (agar luka cepat kering) dengan mempertahankan hanya 3 cabang utama. Pemotongan pucuk utama dilakukan saat tanaman memiliki 5–7 dompolan buah. - Hama & Penyakit Khas: Kutu Kebul (Bemisia tabaci - vektor utama Tomato Yellow Leaf Curl Virus / TYLCV), Lalat Buah (Bactrocera sp.), Ulat Buah (Helicoverpa armigera), Layu Fusarium (Fusarium oxysporum), Layu Bakteri (Pseudomonas solanacearum - mengeluarkan lendir putih susu jika dipotong), serta Busuk Daun (Phytophthora infestans).

Budidaya Tanaman Amaranthaceae (bayam-bayaman)
Modul ini membahas karakteristik, syarat tumbuh, teknik budidaya, serta pengelolaan Hama dan Penyakit Tanaman (HPT) pada dua komoditas utama famili Amaranthaceae (bayam-bayaman): Bayam Lokal/Cabut/Petik (Amaranthus hybridus L.) dan Bayam Jepang / Horenzo / Spinach (Spinacia oleracea). 1: BUDIDAYA BAYAM (Amaranthus hybridus L.) Karakteristik Botani: Tumbuhan herba, berdaun tunggal, bunga kecil seksual/biseksual dengan 3–5 sepal dan stamen berhadapan. Asal dari Benua Amerika dan beradaptasi hingga ketinggian 1.000 m dpl. Kategori Bayam: Bayam Cabut: Batang berwarna merah, hijau, atau keputihan. Bayam Petik: Pertumbuhan tegak, daun lebar berwarna hijau tua atau kemerahan. Bayam Cabut-Petik: Berdaun besar berwarna hijau keabu-abuan. Syarat Tumbuh & Lingkungan:Membutuhkan cahaya matahari penuh. Tempat ternaungi membuat tanaman kurus dan meninggi (etiolasi). Curah hujan >1.500 mm/tahun. Suhu optimal 16-20 derajar C. pH Tanah: Optimal 6,0–7,0. Jika pH >7,5 (alkalis), pucuk daun muda mengalami klorosis (memucat/putih kekuningan). Teknis Budidaya: - Penanaman dianjurkan pada awal musim hujan atau akhir musim kemarau. Benih ditabur di alur bergaris pada bedengan dengan jarak antar barisan 20 cm, lalu ditutup tanah. - Penyiraman Khusus: Apabila terkena air hujan, tanaman harus segera disiram air tawar untuk mencegah infeksi penyakit karat daun. - Panen: Umur 25–35 HST saat tinggi tanaman 15–20 cm dan belum berbunga. Pemanenan dilakukan pagi atau sore hari dengan cara dicabut. - HPT Khas: Ulat daun (Spodoptera sp.), Kutu daun (Myzus persicae), Rebah Kecambah (Pythium sp.), dan Busuk Basah (Rhizoctonia sp. - ditandai bercak putih). 2: BUDIDAYA HORENZO / SPINACH (Spinacia oleracea) Klarifikasi Nama: Horenzo (Spinach) sering dikelirukan dengan Bayam (Amaranth) akibat penerjemahan komik "Popeye". Keduanya dalam famili sama (Amaranthaceae) tetapi berbeda genus (Spinacia vs Amaranthus). Syarat Tumbuh & Lingkungan:Membutuhkan cahaya matahari tetapi TIDAK suka paparan langsung. Tanaman wajib terlindungi/ternaungi. Sinar matahari penuh membuat horenzo tumbuh kurus dan kerdil. Suhu optimal lebih dingin, yaitu $10text{--}20 derajat C. pH Tanah: Optimal 6,0–6,5. Kemiringan lahan 10–25 derajat. Teknis Pemeliharaan Khusus:Jarak tanam 20- 20 cm pada bedengan. Pemupukan: Pupuk organik cair (POC) berbasis urin ternak (rasio 2 liter urin : 8 liter air) diaplikasikan 2 kali per minggu mulai 2 MST. Penyiraman: Rutin 2 kali sehari menggunakan gembor/embrat. Jika terkena air hujan, wajib dibilas dengan air tawar. Panen: Umur 25–35 HST pada tinggi 12-15cm (sebelum berbunga). HPT Khas: Sama seperti bayam lokal, ditambah serangan Tungau (Polyphagotarsonemus latus - dikendalikan dengan abu sekam/abu kayu tanpa lilin) dan Lalat (Liriomyza sp. - diatasi dengan perangkap gula merah/lem lalat).

Budidaya Tanaman Rhizoma (Rimpang)
Modul ini berfokus pada teknik budidaya, kriteria bahan tanam, pemeliharaan, serta penanganan Hama dan Penyakit Tanaman (HPT) pada tiga jenis tanaman rimpang utama dari famili Zingiberaceae: Jahe, Kencur, dan Kunyit. 1: BUDIDAYA JAHE (Zingiber officinale Rosc.) Profil & Karakteristik: Tanaman herba tahunan dengan rasa pedas khas dari senyawa keton bernama zingeron. Tiga Jenis Jahe:Jahe Putih Besar (Jahe Gajah): Rimpang besar (diameter 8–8,5 cm), minyak atsiri 0,8–2,8%, potensi hasil hingga 37ton/ha(contoh: varietas Cimanggu-1). Jahe Putih Kecil (Jahe Emprit): Rimpang kecil berlapis, aroma tajam, minyak atsiri 1,5–3,5%. Jahe Merah: Rimpang jingga muda/merah, aroma sangat tajam, minyak atsiri tertinggi (2,8–3,9%). Syarat Tumbuh & Bibit: Tumbuh optimal pada ketinggian 300–900 m dpl, curah hujan 2.500–4.000 mm/tahun, dan pH 6,8–7,4 (pada pH asam berikan kaptan/dolomit). Bibit berasal dari rimpang tua (minimal umur 10 bulan) dari ruas ke-2 dan ke-3 yang memiliki 2–3 mata tunas. Teknis Budidaya: - Penanaman kedalaman 5–7 cm dengan tunas menghadap ke atas. Ditutup mulsa jerami/alang-alang untuk melindungi tunas muda dari terik matahari dan mencegah erosi. - Pembumbunan: Menimbun pangkal batang setebal ±5 cm saat terbentuk rimpang dengan 4–5 anakan untuk mencegah rimpang terkena sinar matahari (yang mengubah warnanya menjadi hijau dan keras). - Waktu Panen: Konsumsi segar/bumbu (8 bulan), bibit (≥10 bulan), asinan/jahe awet (muda 3–4 bulan). - HPT Utama: Layu Bakteri (Ralstonia solanacearum), Buncak Akar (Meloidogyne sp.), Busuk Rimpang (Sclerotium sp., Fusarium sp.), Kutu Perisai (Aspidiella hartii). 2: BUDIDAYA KENCUR (Kaempferia galanga L.) Profil & Karakteristik: Tanaman obat merumpun dan mendatar di atas permukaan tanah dengan daun yang khas menutup tanah. Rimpangnya mengandung minyak atsiri (etil sinnamat dan metil p-metoksi sinnamat) serta alkaloid. Tipe Kencur:Berdaun Lebar: Rimpang besar, minyak atsiri lebih rendah (misal: klon Balittro-V2). Berdaun Sempit/Jorong: Rimpang lebih kecil, kandungan minyak atsiri lebih tinggi (misal: klon Balittro-V3 dan V4). Kelebihan Teknis Kencur: Berbeda dari jahe, rimpang kencur dapat ditanam di lapangan sebelum hujan turun asal rimpangnya belum bertunas (akan beradaptasi dan tumbuh serempak begitu hujan turun). Pemeliharaan & Pembumbunan: Penyiangan rutin tiap 2 minggu. Pembumbunan penting agar rimpang tidak mengulur ke permukaan (rimpang di permukaan akan berwarna hijau dan tidak membesar). Panen: Panen konsumsi usia 6–10 bulan, sedangkan untuk bibit usia 10–12 bulan. Panen kencur dapat ditunda hingga 3 tahun tanpa menurunkan mutu rimpang secara drastis. 3: BUDIDAYA KUNYIT (Curcuma longa Linn.) Profil & Karakteristik: Tanaman rempah asli Asia Tenggara. Kandungan utamanya adalah kurkumin dan minyak atsiri (berfungsi sebagai antioksidan, antiinflamasi, antikolesterol, dan antitumor). Syarat Tumbuh & Bibit: Tumbuh optimal pada curah hujan 1.000–4.000 mm/tahun dari dataran rendah hingga >2.000 m dpl. Bibit berupa potongan rimpang berbobot 20–30 gram, panjang 3–7 cm dengan 1–3 mata tunas dari induk berumur >7–12 bulan. Teknis Budidaya: - Penyemaian Bibit: Rimpang diangin-anginkan di tempat teduh/lembab selama 1–1,5 bulan hingga tunas tumbuh 2–3 cm sebelum dipindah ke lahan. - Pola Tanam: Penanaman dilakukan pada awal musim hujan. Pola panen pendek (7–8 bulan) atau panjang (12–18 bulan). Jarak tanam 60 cm pada bedengan. - Pembumbunan & Pemupukan: Pembumbunan dilakukan rutin tiap 3–4 bulan sekali. Pemupukan susulan POC diulangi tiap 2 bulan hingga bulan ke-6. - Panen: Optimal dipanen pada umur 11–12 bulan (ditandai gugurnya daun kedua dan daun/batang menguning kering). Panen dilakukan saat musim kemarau karena zat aktif mengumpul dan kadar air rendah. - HPT & Pestisida Nabati: Ulat Penggerek Akar, Busuk Bakteri Rimpang, dan Karat Daun Kunyit. Tanaman pembasmi hama alami meliputi Tembakau (nikotin), Piretrum (piretrin), Tuba (rotenone), Mimba (azadirachtin), Bengkuang (pakhirizida), dan Jeringau (asaron).

Budidaya Tanaman Liliaceae (Bawang Daun)
Modul ini membahas karakteristik, syarat tumbuh, teknik perbanyakan (benih dan anakan), tata cara pemeliharaan, serta penanganan Hama dan Penyakit Tanaman (HPT) pada komoditas Bawang Daun (Liliaceae). KLASIFIKASI & SYARAT TUMBUH Familia & Karakteristik: Liliaceae (berkeping biji tunggal/monokotil, tidak berpembuluh akar tunggang, berakar serabut dangkal). Memilki aroma harum spesifik dan tulang daun sejajar. Dua Jenis Bawang Daun: Bawang Bakung / Bawang Semprong / Sibol (Allium fistulosum L.): Daun bulat panjang dan berlubang seperti pipa, kadang memiliki umbi kecil. Bawang Prei / Leek / Kucai (Allium porum L.): Daun panjang, pipih, berpelepah panjang, liat, dan tidak berumbi. Varietas Populer: Plumpung, Nyonya, dan Mambo.Syarat Tumbuh: Tanah subur dan gembur dengan pH 6,5–7,0. Tumbuh subur di dataran tinggi (Cipanas, Lembang, Pangalengan, Tawangmangu, Batu); di dataran rendah dapat tumbuh namun jumlah anakan/rumpunnya lebih sedikit. Untuk pembungaan, membutuhkan suhu 5-10 derajat C selama satu bulan PEMBIBITAN & PERSEMAIAN Bawang daun dapat diperbanyak dengan dua cara utama: Pembibitan dengan Benih (Generatif):Disemai di bedengan selebar 100 cm dengan atap plastik bening (sisi Timur 150 cm, sisi Barat 80 cm).Ditabur pada larikan melintang sedalam 1 cm (jarak antar larikan 10 cm), ditutup goni/daun pisang basah. Bibit siap pindah tanam pada umur 2 bulan (tinggi 10–15 cm). Kebutuhan benih per hektar adalah 1,5–2 kg. Pembibitan dengan Anakan (Vegetatif):Rumpun induk berumur 2,5 bulan yang sehat (terdiri dari 7–10 anakan) dipisahkan menjadi rumpun baru (1–2 anakan). Sebagian daun tua dipotong dan akar rumpun induk dibersihkan. (Catatan: Menyisakan sebagian daun penting karena memotong seluruh daun akan memperlambat pertumbuhan akar dan daun baru).Simpan bibit di tempat lembab dan teduh selama 5–7 hari sebelum ditanam. TEKNIS BUDIDAYA & PEMELIHARAAN Pengolahan Lahan: Dilakukan 7–15 hari sebelum tanam; tanah dicangkul sedalam 30–40 cm. Dibuat bedengan lebar 100 cm, tinggi 30 cm, dan lebar parit 40 cm. Pupuk organik dasar diberikan sebanyak 10 ton/ha. Penanaman: Jarak tanam 25 - 25 cm sedalam 10 cm dengan 1–2 bibit per lubang. Sering ditumpangsarikan dengan wortel atau sayuran daun lainnya. Waktu tanam terbaik adalah awal musim hujan (Oktober) atau awal musim kemarau (Maret). Pemupukan Susulan: Aplikasi POC pertama umur 25–30 HST dengan dosis 5 tutup botol/liter air (disiramkan 250 cc/tanaman). Perawatan Khusus: Penyulaman: Maksimal 15 HST. Penyiangan: Pada umur 3–4 minggu dan 6 minggu. Pembubunan: Bagian dasar ditimbun pada 4 minggu sebelum panen. Pemangkasan: Memotong tangkai bunga (jika tidak dibenihkan) dan membuang daun tua untuk merangsang anakan baru. Penyiraman 2 kali sehari (jangan menggenang/becek). HAMA & PENYAKIT AKIBAT ORGANISME PENGGANGGU Hama Utama:Ulat Bawang/Grayak (Spodoptera exigua): Memakan bagian dalam daun pipa. Ulat Tanah (Agrotis ipsilon): Menyerang pangkal/batang daun bagian bawah.Thrips/Kutu Loncat (Thrips tabaci Lind.): Menyerang pucuk daun; dikendalikan dengan yellow trap dan pesnab. Penggerek Daun: Daun tampak memutih keabu-abuan; dikendalikan dengan pangkas daun terserang dan semprotan racun nabati (minyak cengkeh, air tembakau, dan minyak sereh). Penyakit Utama:Black Spot: Bercak hitam di permukaan daun yang membuat daun menguning dan rontok. Busuk Daun (Phytophthora infestans): Memicu bercak hitam pada pangkal daun.Layu: Serangan jamur pada akar (tanaman harus dicabut dan dibakar).Kapang Daun (Cladosporium fulvum Cke): Spora coklat pada permukaan daun. PANEN DAN PASCA PANEN Panen: Dipanen pada umur 2,5 bulan setelah tanam (jumlah anakan maksimal 7–10 anakan) saat beberapa daun mulai menguning. Seluruh rumpun dibongkar dengan garpu di pagi atau sore hari. Pascapanen:Akar dibersihkan dari tanah basah dan daun tua dibuang.Dicuci air mengalir, dikering-anginkan, dan disortir berdasarkan diameter batang: Kecil (1–1,4 cm) dan Besar (1,5–2 cm).Ujung daun dipotong sekitar 10 cm untuk mengurangi penguapan. Disimpan pada suhu 18-24 derajat C selama sehari semalam untuk menekan penyusutan bobot.

Budidaya Tanaman Herbalia
Modul ini berfokus pada pengetahuan dan keterampilan praktis dalam membudidayakan lima jenis tanaman herbalia aromatik dan bahan obat: Mint, Rosemary, Dill/Adas, Oregano, dan Parsley 1: BUDIDAYA MINT (Lamiaceae) Profil & Ciri Botani: Memiliki batang berbentuk persegi dan daun berpasangan. Tanaman muda memiliki rasa yang lebih baik, sedangkan tanaman tua cenderung terasa pahit dan liat. Syarat tumbuh meliputi tanah subur, pH 6–7, serta area basah/lembab. Spesies & Varietas:Peppermint (Mentha x piperita): Hasil persilangan Spearmint (M. spicata) dan Water Mint (M. aquatica). Berbatang ungu, memiliki sifat antiseptik.Water Mint (Mentha aquatica): Suka area berair/lembab.Spearmint (Mentha spicata): Tidak berbatang kayu, daun tajam, aroma kuat.European Pennyroyal (Mentha pulegium): Saat ini lebih banyak difungsikan sebagai repellent (pengusir hama). Teknis Budidaya: - Persemaian: Menanam dari biji relatif sulit. Disarankan menggunakan stek tangkai yang direndam dalam air atau ditanam di polibag hingga keluar akar putih dalam 1–2 minggu. - Pemeliharaan: Memotong kuncup bunga sebelum mekar (Juni–September) untuk mencegah tanaman tumbuh liar dan memanjang serta memperpanjang musim panen daun. Memangkas pucuk secara rutin agar merangsang pertumbuhan daun ke samping. - Panen: Pemanenan maksimal 1/3 bagian daun dalam satu waktu. - HPT: Penyakit Rust (jamur bercak oranye-cokelat di bawah daun), Verticillium wilt, Flea beetles, dan Spider mites (dikendalikan dengan pestisida nabati). 2: BUDIDAYA ROSEMARY (Rosmarinus officinalis) Profil & Habitat: Berasal dari Eropa, tergolong suku Lamiaceae. Tumbuh subur di daerah pegunungan yang sejuk dan kering. Mengandung Chineol, Borneol, dan Minyak Atsiri. Khasiatnya antara lain meningkatkan daya ingat/memori otak, antioksidan kanker, serta perawatan kulit/rambut. Teknis Budidaya: - Persemaian: Paling mudah diperbanyak dari potongan stek batang (panjang ±4 inci / 10 cm) daripada dari benih. - Pemupukan & Penyiraman: Tidak memerlukan pupuk, tetapi tanah butuh kandungan kapur yang cukup. Jangan terlalu sering disiram karena rosemary menyukai tanah yang lebih kering (kebutuhan air terbantu air hujan). - Panen: Dapat dipanen kapan saja sepanjang tahun. Dikeringkan atau dibekukan dalam wadah kedap udara. 3: BUDIDAYA DILL / ADAS (Foeniculum vulgare) Profil & Kandungan: Asal Eropa Selatan dan Asia, tergolong famili Apiaceae. Di Indonesia memiliki nama lokal beragam (misal: Hades Sunda, Adas Londo Jawa, Adeh Minang). Mengandung minyak atsiri (1–6%), Anetol (50–60%), dan Fenkon. Manfaat Bagian Tanaman:Buah Adas: Mengatasi mulas, perut kembung, diare, asma, nyeri haid, dan membantu menghancurkan kencing batu.Daun: Mengatasi batuk, perut kembung, dan meningkatkan penglihatan.Akar: Pencahar dan diuretik. Teknis Budidaya: - Syarat tumbuh: Dataran rendah hingga tinggi (10–1.800 m dpl), suhu 15-20 derajat Celcius, pH 6,5. - Jarak tanam 0,5-1 m dengan pupuk kandang 100 g/lubang. - Pemupukan NPK: Fase vegetatif butuh unsur N tinggi; fase generatif butuh unsur P dan K tinggi. - Panen: Mulai umur 8 bulan setelah tanam (ditandai buah berwarna hijau keabu-abuan/kehitaman dan keras). - Pemanenan tidak serempak (berlangsung selama 4 bulan dengan 15 kali pemetikan). Buah dijemur hingga kadar air 12–14%. 4: BUDIDAYA OREGANO (Origanum vulgare) Profil & Manfaat: Tanaman bumbu asal Mediterania dan Asia Tengah dari famili Lamiaceae. Mengandung senyawa Carvacrol, Thymol, dan Asam Ursolat yang bersifat antiseptik, antibakteri, serta antiinflamasi. Bermanfaat meredakan batuk, kram, nyeri haid, serta menyembuhkan masalah pencernaan. Teknis Budidaya: - Membutuhkan drainase tanah yang baik dan sinar matahari minimal 6 jam per hari (jika di dalam pot, letakkan di jendela mengarah ke selatan). - Penyiraman dilakukan pada pagi hari di daerah pangkal batang (hindari menyemprot daun dari atas untuk mencegah timbulnya jamur semalaman). - Pengendalian Hama Organik: Dilarang menggunakan pestisida kimia. Ditanami tanaman pembatas (companion planting) seperti bawang putih, adas, dan bawang merah di dekatnya. - Panen: Dipanen pagi hari saat embun mulai mengering sebelum tanaman berbunga. Pada akhir musim, potong tanaman hingga tersisa beberapa cm di atas tanah agar tumbuh kembali di tahun berikutnya. 5: BUDIDAYA PARSLEY / PETERSELI (Petroselinum sativum) Profil & Ciri Botani: Tergolong famili Umbelliferae / Apiaceae (satu famili dengan seledri). Memiliki dua jenis utama: Curly Variety (daun keriting - paling banyak dicari) dan Plain Parsley (Parsley Italia - mirip seledri). Tumbuh optimal di dataran tinggi yang dingin, lembab, serta kaya kalsium. (Jika miskin kalsium, peterseli tumbuh merana dan pucuk daun mengeriting). Kandungan Nutrisi: Kaya Vitamin C (166 mg/100 g - 3x lebih tinggi dari jeruk), Kalium, Zat Besi, dan Asam Folat (sangat penting bagi ibu hamil dan perkembangan janin). Teknis Persemaian & Penanaman: - Benih direndam air selama 24 jam untuk mempercepat perkecambahan (waktu berkecambah cukup lama, yaitu 2–3 minggu). - Pengujian kelembaban media semai: Jika dikepal dan kepalan tanah tetap utuh saat tangan dibuka, kelembabannya pas. - Pemupukan N/K (Urea/ZK 10 gram/tanaman) diberikan pada bulan ke-1, ke-2, dan ke-3. - Panen: Dipanen saat daun dan batang mencapai panjang ±25 cm. Dipetik dari bagian daun paling bawah/tua dengan cara menarik pangkal daun ke arah samping.

Budidaya Tanaman Asteraceae (Kenikir-kenikiran)
Modul ini berfokus pada teknik budidaya, syarat tumbuh, pemeliharaan, serta pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman (HPT) pada dua kelompok komoditas famili Asteraceae: Selada Hijau/Merah (Lactuca sativa L.) dan Selada Head/Cos (Lactuca sativa var. crispa L.). 1: BUDIDAYA SELADA HIJAU / MERAH (Lactuca sativa L.) Profil & Syarat Tumbuh: Sayuran daun semusim yang tumbuh optimal di dataran tinggi dengan lahan subur berhumus, berpasir, atau berlumpur (pH 5,0–6,5). Jika ditanam di dataran rendah, krop akan menjadi kecil-kecil dan tanaman cepat berbunga. Waktu tanam terbaik adalah akhir musim hujan. Pra-Budidaya & Penanaman:Diperbanyak melalui biji (butuh ±250 gram benih/hektar). Bibit yang ditanam berumur minimal 21 hari atau berdaun 4–6 helai. Diberi pupuk dasar ½ kg per lubang tanam dengan jarak tanam $20 times 20text{ cm}$. Setelah dipindah tanam, bedengan diberi naungan (sungkup) untuk membantu adaptasi bibit. Perawatan:Penyiangan dimulai sejak 2 HST dan penyiraman dilakukan teratur 2 kali sehari. Pemupukan susulan POC (1 liter POC : 8 liter air) dosis 250 ml/tanaman diberikan pada umur 2 MST. Panen & Pemasaran:Dipanen pada umur 28–35 HST (maksimal 42 HST) saat tinggi tanaman 15–20 cm dan belum berbunga. Panen dilakukan secara selektif dengan mencabut tanaman yang sudah berukuran maksimal (sekaligus berfungsi sebagai penjarangan). Peringatan Pemanenan: Panen wajib diselesaikan sebelum 42 hari; jika terlambat, kualitas menurun, rasa menjadi pahit, batang mengeras, dan tanaman mulai berbunga. HPT & Pengendalian: Hama ulat daun, belalang, dan kutu loncat dikendalikan dengan hand picking atau pesnab (jerangau, daun sirsak, bawang putih, daun bunga sepatu). Penyakit bercak hitam dan cacar daun diatasi dengan pesnab (urbin, daun nimba, tembakau, kunyit). 2: BUDIDAYA SELADA HEAD / COS (Lactuca sativa var. crispa L.) Profil & Ciri Botani: Dikenal juga sebagai Romaine lettuce atau Cos. Memiliki daun memanjang, kasar, renyah dengan tulang daun tengah lebar dan jelas. Daun agak sempit, tumbuh tegak, dan tidak membentuk kepala krop. Merupakan satu-satunya jenis selada asli lembah Mediterania timur dan telah ditanam sejak 4500 SM. Teknis Budidaya: - Pengolahan lahan menggunakan teknik double digging atau silata. Pemberian pupuk dasar 1/4-1/2 kg per lubang tanam dan diberi sungkup/naungan setelah tanam. - Pemupukan susulan POC (250 ml/tanaman) dimulai umur 2 minggu dan diulangi setiap 5 hari sekali. - Penyiraman dilakukan 2 kali sehari. Panen: Dipanen maksimal umur 40 hari dengan mencabut tanaman hingga akarnya secara perlahan pada sore hari. - HPT: Sama seperti selada hijau/merah, dikendalikan secara mekanis (hand picking) dan penyemprotan pesnab dosis 250 cc/10 liter air.

Budidaya Tanaman Bunga Matahari
Modul ini berfokus pada pemahaman dan keterampilan teknis dalam membudidayakan Bunga Matahari (Helianthus annuus L.) dari suku kenikir-kenikiran (Asteraceae). PROFIL, KARAKTERISTIK, & MANFAAT Asal-usul: Berasal dari Amerika Utara (dibudidayakan oleh suku Indian) dan disebarkan ke Eropa pada abad ke-16. Merupakan bunga nasional Ukraina dan bunga resmi negara bagian Kansas, AS. Morfologi: Tumbuhan semusim berbatang tegak, berambut kasar, dan jarang bercabang dengan tinggi mencapai 3–5 meter. Bunga Majemuk: Terdiri dari bunga lidah/tepi (steril dengan kelopak besar kuning cerah) dan bunga tabung (fertil menghasilkan biji, mencapai 2.000 kuntum/tandan). Heliotropisme: Pergerakan tandan bunga mengikuti pergerakan harian matahari yang memberikan keuntungan fotosintesis 10% lebih banyak. Jenis/Varietas Populer:Mammoth. Autumn Beauty: Bunga besar (diameter 15 cm) berwarna merah tua/cokelat kemerahan pada batang setinggi 2 meter. Sunbeam: Ukuran sedang (tinggi 1,5 m, bunga 12 cm) dengan daun bunga panjang tidak simetris dan bagian tengah kuning. Teddy Bear: Ukuran kecil (tinggi ±1 m), cocok untuk lahan sempit. Manfaat: Mengandung Vitamin E dan C (antioksidan ganda), mengatasi penyakit jantung, sebagai antraktan/pestisida hayati, serta menghasilkan minyak bermutu tinggi untuk masakan, saus, dan margarin. 2. TEKNIS PERSEMAIAN & PENANAMANPemilihan Biji/Benih:Ambil biji bernas di bagian 2–3 baris dari pinggir tandan bunga (jangan mengambil biji paling luar/pinggir). Benih tergolong benih ortodoks (disemai bersama kulit bijinya). Uji Perendaman: Benih yang pecah di bagian bawah saat direndam menandakan benih berkualitas baik. Jika pecah bagian atasnya, benih cenderung mudah busuk. Syarat Tumbuh & Lokasi:Tumbuh dari dataran rendah hingga ketinggian 1.500 m dpl. Paling subur di daerah pegunungan yang lembab dan mendapatkan matahari langsung. Penanaman di Lahan:Lubang tanam dibuat sedalam 15–20 cm dengan jarak tanam 45-60 cm agar pertumbuhan lebih longgar. Pindah tanam dilakukan saat bibit berumur minimal 21 hari (berdaun 4–6 helai). Pasang naungan (sungkup) awal pasca tanam. 3. PEMELIHARAAN & PANEN - Pemupukan: Fase Vegetatif: Membutuhkan pupuk dengan kandungan Nitrogen (N) tinggi. Fase Generatif: Membutuhkan pupuk dengan kandungan Fosfor (P) dan Kalium (K). Aplikasi pupuk cair dilakukan seminggu sekali dengan dosis 0,5 liter/tanaman. Perawatan Khusus: - Penyiangan gulma dan perompesan daun tua serta tunas air yang mengganggu. - Pemasangan Ajir: Diberikan saat tanaman mencapai tinggi ±50 cm agar tanaman tidak roboh akibat terpaan angin. - Panen & Pascapanen: Dipanen saat bunga tua sempurna (umur panen berkisar 2–3 bulan). - Penjemuran dilakukan bersama tangkai bunganya dengan posisi terlentang untuk menjaga kualitas. Biji dilepaskan dari kelopak setelah kering, lalu disimpan di tempat sejuk.

Earn a certificate

Add this certificate to your resume to demonstrate your skills & increase your chances of getting noticed.

selected template